Setelah
berada di angka Rp50 selama tiga bulan, dari Juni sampai September 2021, saham
emiten PT Putra Rajawali Kencana Tbk. (PURA) kembali bangkit. Tepatnya pada 20
September 2021 sampai sekarang, nilai saham PURA naik dari Rp50 menjadi
berkisar antara Rp70 sampai dengan Rp83. Nilai saham dari emiten dengan basis
usaha jasa transportasi dan pengangkutan ini memang sempat turun drastis pada
bulan Juni 2021 lalu, yaitu dari Rp140 jadi Rp50. Penurunan yang dalam itu
terjadi bersamaan dengan laju peningkatan kasus korona di Indonesia yang sangat
pesat, bahkan indeks acuan pun ikut terkoreksi.
Nilai saham PURA yang
bangkit kembali tidak lepas dari peran Ustadz Yusuf Mansur. Ustadz Yusuf Mansur
yang juga merupakan pendiri Paytrend, sebuah konsorsium investasi, membeli
saham PURA dengan jumlah besar. Jumlah saham yang dibeli Ustadz Yusuf Mansur
memang tidak mencapai 5% dari total saham PURA yang mencapai 5,3 miliar lembar.
Meski tidak besar, namun pada hari Ustadz yusuf Mansur “mengumumkan”
investasinya di PURA melalui instagram-nya,
volume saham PURA yang diperdagangkan mencapai 304 juta lembar saham. Alhasil,
saham PURA naik 34%, dari Rp50 menjadi Rp67.
Pada tanggal 9 Desember 2021, nilai saham PURA mencapai Rp78 atau telah menembus moving average 200 yang berada di
kisaran Rp76. Terlewatinya MA200 menandakan trend
penguatan saham segera muncul. Selain melewati MA200, nilai saham PURA juga
sudah mendekati price to book value atau
PBV-nya, yaitu Rp78. Artinya, kinerja pasar perusahaan telah membaik pula.
Alasan Ustadz Yusuf
Mansur berinvestasi di perusahaan jasa pengangkutan dan transportasi tersebut,
selain dari sisi bisnisnya, adalah karena kepedulian Ustadz yusuf Mansur
terhadap sopir truk. Menurut Ustadz Yusuf Mansur, supir truk harus diperhatikan
kelangsungan hidupnya karena berkat mereka barang bisa terdistribusikan dengan
baik.
Adapun perihal analisis
bisnis PURA, ada poin yang menjadi catatan pesimis dan optimis. Catatan pertama
adalah catatan pesimis terhadap kinerja perusahaan tahun 2021 ini. Catatan
pesimis itu berangkat dari sisi kinerja fundamental perusahaan. Sayangnya,
sampai saat ini, pendapatan perusahaan belum diumumkan melalui laporan tahunan
maupun laporan keuangan. Informasi terakhir yang dapat diperoleh adalah revenue perusahaan dan net income perusahaan pada Kuartal 1
2020 sampai Kuartal 2 2021. Angka yang diraih oleh perusahaan juga bisa
dibilang kurang menggembirakan untuk tahun 2021 ini. Capaian perusahaan pada Q1 2021 maupun Q2 2021
menunjukkan rasio net profit margin
yang stagnan dibandingkan kuartal yang sama tahun sebelumnya (Tabel 1). Kuartal ketiga
dan keempat juga dikhawatirkan akan sama jika selama dua kuartal tersebut
perusahaan tidak melakukan efisiensi yang berarti.
Tabel 1 Kinerja Perusahaan PURA Q1 2020 - Q2 2021
Period | Revenue (juta rupiah) | Net Income (juta rupiah) | Net Margin Ratio |
Q2 - 2021 | 18.581 | 852 | 4.6% |
Q1 - 2021 | 40.108 | 3.883 | 9.7% |
Q4 - 2020 | 18.409 | 2.492 | 13.5% |
Q3 - 2020 | 19.563 | -258 | - |
Q2 - 2020 | 21.366 | 902 | 4.2% |
Q1 - 2020 | 36.617 | 3.632 | 9.9% |
Sumber: https://www.idnfinancials.com/pura/pt-putra-rajawali-kencana-tbk, diakses 10 Desember 2021
Catatan selanjutnya
adalah catatan optimistis terhadap kinerja fundamental perusahaan. Jika ditanya
tentang apa yang meyakinkan dari perusahaan ini, maka jawabannya adalah
perjalanan perusahaan. Perusahaan PURA ini merupakan perusahaan yang berdiri
sudah cukup lama, yaitu dari tahun 1970an. Awal mula bisnis perusahaan adalah
jasa angkut tetes tebu. Setelah itu, perlahan namun pasti, perusahaan beranjak
kepada jasa angkut olahan kelapa sawit hingga sampai saat ini melayani
distribusi aneka barang di Jawa. Perusahaan juga memiliki keunggulan
kompetitif, yaitu mitra pengemudi yang handal; teknologi dan sistem IT terbaru;
data tersimpan rapi; jangkauan yang luas; dan teknologi terintegrasi dalam
bidang logistic. Struktur pendanaan
perusahaan juga lebih sehat, terutama setelah perusahaan melaksanakan initial public offering (IPO) pada
Januari 2020. Pada tahun 2019, leverage
atau rasio liabilitas terhadap asset mencapai 18%. Kemudian setelah IPO, perusahaan
memiliki leverage 9%. Struktur asset yang demikian bisa memacu kinerja
perusahaan jadi lebih baik.
Saran bagi perusahaan
ini adalah untuk mengurungkan niatnya melakukan ekspansinya di luar Jawa. Meski
terlihat menggiurkan karena infrastruktur dibangun massif oleh pemerintahan
Jokowi, namun risiko berkaitan dengan keamanan dan permintaan masyarakat masih
rentan. Strategi yang keliru bisa membuat perusahaan kehilangan kepercayaan
investor. Dimana saat ini kepercayaan investor mulai naik kembali.